Panggilan Suci

"Dengan penuh kerendahan hati, aku menyerahkan diriku seutuhnya. Labbaik Allahumma Labbaik."

Wukuf di Arafah

Wukuf di Arafah adalah panggung agung pengakuan dosa, di mana jutaan air mata tumpah membasahi Padang Mahsyar mini, mengharap ampunan tak bertepi dari Sang Pemilik Semesta.

Melempar Jumrah

Setiap kerikil yang jatuh saat melempar jumrah adalah deklarasi perang abadi terhadap godaan diri, bisikan dunia, dan segala bentuk kebatilan yang menghalangi jalan menuju keridhaan-Nya.

Menjadi tamu Allah di Masjidil Haram

"Alhamdulillah, Ya Rabb. Akhirnya kami bisa berfoto bersama di depan Baitullah yang mulia ini.."

Niat dan Persiapan (Awal Pendaftaran)

"Dengan menyebut nama Allah, kami memulai langkah administratif ini sebagai wujud kesungguhan hati untuk menyambut takdir berhaji."

7 Mei 2024

Tentang Kami


Selamat datang di Travel Haji Plus Umroh, penyedia perjalanan haji dan umroh yang terpercaya dan berpengalaman melayani para tamu-tamu Allah yang akan berangkat ke Tanah Suci.

Kami menyediakan layanan penuh untuk memenuhi kebutuhan spiritual Anda dalam melakukan ibadah haji dan umroh. Dengan komitmen kami untuk memberikan pelayanan terbaik dan pengalaman yang tak terlupakan, kami siap membantu Anda merencanakan perjalanan suci Anda ke tanah suci dengan nyaman dan aman.

Kami memahami betapa pentingnya ibadah haji dan umroh bagi kita sebagai umat Islam, dan kami berdedikasi untuk memberikan layanan yang terbaik untuk memastikan pengalaman ibadah Anda berjalan lancar dan penuh berkah. Dengan dukungan tim profesional dan kerja sama dengan mitra terpercaya di Arab Saudi, kami menawarkan paket-paket perjalanan yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan dan preferensi Anda.

Dari proses pendaftaran hingga pelaksanaan ibadah di tanah suci, kami akan mendampingi Anda setiap langkahnya. Dengan layanan yang terintegrasi, akomodasi yang nyaman, dan fasilitas yang memadai, kami bertekad untuk memberikan pengalaman perjalanan yang tak terlupakan dan memberikan nilai yang sepadan dengan kepercayaan Anda kepada kami.

Mari bergabung dengan ribuan jamaah yang telah mempercayakan perjalanan ibadah mereka kepada kami dan rasakan kemudahan serta kedamaian batin dalam menjalankan kewajiban suci Anda. Bersama-sama, mari wujudkan impian Anda untuk mengunjungi Baitullah dan berkunjung ke tempat-tempat suci lainnya dengan penuh ketenangan dan keberkahan.

Jangan ragu untuk menghubungi tim kami jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut atau ingin mendapatkan informasi lebih lanjut tentang paket perjalanan haji dan umroh yang kami tawarkan. Kami siap membantu Anda dalam mewujudkan perjalanan spiritual yang berarti dan memuaskan.

Share:

23 Jan 2023

Hukum Badal Haji


Hukum Badal Haji

Badal Haji menggantikan proses  haji bagi orang lain yang wajib menunaikan ibadah haji tetapi tidak bisa, termasuk almarhum. Hal ini berdasarkan keterangan hadis seorang wanita suku Juhainah bertanya kepada Nabi SAW,

إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ، أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا، أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَةً؟ اقْضُوا اللَّهَ فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالوَفَاءِ

Yang artinya: "Ibuku bersumpah untuk menunaikan haji tetapi dia meninggal  sebelum menunaikannya. Aku bisa melakukannyaAtas namanya?” Nabi SAW menjawab: “Ya, berziarahlah padanya. Bagaimana menurut Anda jika ibu Anda memiliki hutang, Anda tidak akan membayarnya? Bayar (hutang) kepada Allah karena Dia memiliki hak yang lebih besar untuk membalas (HR Bukhari dan An Nasa'i).

Badal haji bagi orang yang telah meninggal dunia karena orang tersebut sudah wajib menunaikan haji  atau  berniat menunaikan haji berdasarkan nazar, juga berdasarkan hadits riwayat IbnuAbbas RA. Seorang pria dari suku Khats'am mendatangi Nabi SAW dan berkata:

"Ayahku sudah meninggal  dan Dia wajib menunaikan ibadah haji, haruskah aku melakukannya?” Nabi SAW menjawab: “Bagaimana pendapatmu jika ayahmu meninggalkan hutang. Apakah Anda harus membayarnya kembali?” Orang itu menjawab: “Ya”, kata Nabi SAW, “Berziarahlah ke ayahmu” (HR Ahmad dan An Nasa'i).

Dengan cara ini, utang atau properti dapat dilunasi. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa seorang wanita dapat mendelegasikan ziarah kepada seorang pria dan  sebaliknya."Ulama di kalangan Sahabat dan lainnya telah menyatakan bahwa  haji bagi orang yang meninggal diperbolehkan. Hal yang sama juga dinyatakan oleh ats Tauri, Ibnu MubarakAhmad, Syafi'i dan Ishak," tulis Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah Jilid 3.

Tugas Alternatif Haji dikenakan pada ahli warisnya. 

Ada ketidaksepakatan tentang hal ini di antara para imam besar aliran pemikiran.Salah satunya adalah Mazhab Imam Syafi'i, yang tidak membolehkan haji diganti jika dilakukan oleh seseorang yang tidak menunaikan haji untuk dirinya sendiri. Jika dia melakukan haji, dia dikreditkan dengan haji.

Dasar hadis dikutip dari Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani yang berbunyi:

عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ. قَالَ: مَنْ شُبْرُمَةُ؟ قَالَ: أَخٌ أَوْ قَرِيبٌ لِيْ. قَالَ: حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ؟ قَالَ: لَا. قَالَ: حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ، ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ. رواه أبو داود والدار قطني والبيهقي وغيرهم باسانيد صحيحة

Artinya: Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas RA bahwa Nabi SAW pernah mendengar seseorang mengatakan: "Lajbaika Syubrumah". Dia bertanya, "Siapakah Syubrumah?" Dia menjawab: "Saudaraku." Lalu dia berkata, “Apakah kamu sudah menunaikan haji untuk dirimu sendiri?” Dia menjawab, “Belum.” Dia berkata:"Haji untuk diri sendiri, lalu Haji untuk Syubrumah. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Sekarang diperbolehkan menurut mazhab Imam Hanaf badal haji

كَانَ اَلْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ رَدِيفَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم. فَجَاءَتِ اِمْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ، فَجَعَلَ اَلْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ، وَجَعَلَ اَلنَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - يَصْرِفُ وَجْهَ اَلْفَضْلِ إِلَى الشِّقِّ اَلْآخَرِ. فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ، إِنَّ فَرِيضَةَ اَللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي اَلْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا، لَا يَثْبُتُ عَلَى اَلرَّاحِلَةِ، أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟ قَالَ: نَعَمْ. وَذَلِكَ فِي حَجَّةِ اَلْوَدَاعِ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

Artinya: Hadits Fadhal Ibnu Abbas RA bahwa seorang wanita dari suku Khas'am bertanya kepada Rasulullah SAW: kondisi yang sama seperti ayah saya, yang sudah sangat tua dan tidak bisa lagi mengemudi.Bolehkah saya melakukan haji atas nama Anda? Rasulullah SAW menjawab: “Ya. Peristiwa itu terjadi pada saat ibadah haji” (HR Muttafaq'alaih).

Pemerintah Indonesia sendiri telah menyiapkan program studi haji di setiap organisasi haji yang berfungsi.Rombongan jamaah haji yang mengikuti program Badal Haji.

"Jumgrim yang meninggal dunia di asrama asrama haji atau pesantren menengah dalam perjalanan  ke ArabArab Saudi atau  Arab Saudi sebelum masuk Arafah," katanya Senin, dikutip di situs Kemenag.  Pemerintah Indonesia juga mengatur pelemparan jumroh badal  bagi yang tidak mampu.

Share:

22 Jan 2023

Badal Haji 2023

Hukum Badal Haji

Saat
musim haji, masyarakat banyak bertanya seputar ibadah haji. Diantaranya adalah hukum badal haji bagi orang yang sudah meninggal. Bagaimana hukum Badal Haji bagi yang meninggal? Apakah Boleh?

Menurut para ulama, halal dan halal menunaikan haji badal bagi orang yang meninggal, apalagi jika orang yang meninggal itu wajib menunaikan ibadah haji dalam keadaan hidup tetapi tidak sempat menunaikan ibadah haji untuk beberapa Alasan seperti dia menunggu terlalu lama, melewatkan antrian, sehingga dia meninggal lebih awal, dan alasan lain semua ulama setuju bahwa haji yang buruk dapat diterima dan sah baginya.

Ada dua orang yang hajinya dapat diganti atau dilakukan oleh orang lain dengan izin para ulama. Yuk baca informasinya! Berwenang dan sah. Para ulama berbeda pendapat apakah dia wajib haji atau tidak. Ada yang mengatakan sah untuk berziarah untuknya dan yang lain tidak.

Informasi Pendaftaran Badal Haji 087884412164 (Telp/Whatsapp)

Share:

8 Jan 2023

Jemaah Umrah dan Haji Kini Wajib Ikut Kepesertaan BPJS Kesehatan

 


INFO HIMPUH- Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) kini mewajibkan calon jemaah umrah dan haji khusus untuk masuk menjadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan).

Ketentuan tersebut ada di dalam KMA (Keputusan Menteri Agama) No. 1456 / 2022 tentang Persyaratan Kepesertaan JKN dlm Penyelenggaraan Perjalanan Haji Khusus dan Umroh, yang ditandatangani oleh Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas pada tanggal 21 Desember 2022.

Aturan wajib ikut dalam kepesertaan JKN diperuntukkan untuk calon jemaah umrah dan haji khusus, dan juga para pelaku Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) dan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU). 

Ada 5 poin yang ditekankan dalam KMA tersebut:

1. Pelaku usaha dan pekerja pada PPIU (Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah) dan PIHK (Penyelenggara Ibadah Haji Khusus) harus terdaftar sbg peserta aktif dalam program JKN.

2. PPIU dan PIHK memberikan syarat pada calon jemaah umrah dan calon jemaah haji khusus yang ingin mendaftar adalah sebagai peserta aktif program JKN. Kepesertaannya dapat dibuktikan dengan data/dokumen yg sah sesuai dengan ketentuan pada peraturan perundang-undangan.

3. Bagi para Jemaah haji khusus yang saat ini yang sudah mendaftar pada saat sebelum Keputusan ini ditetapkan, namun belum terdaftar sebagai peserta program JKN, maka calon jamaah wajib sudah menjadi peserta aktif pada saat melakukan pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji Khusus.

4. Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah dapat melakukan pembinaan dan pemantauan terhadap PPIU (Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah) dan PIHK (Penyelenggara Ibadah Haji Khusus) atas pelaksanaan program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional).

5. Keputusan Kemenag ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Untuk diketahui, KMA No. 1456 Tahun 2022 ini merupakan tindak lanjut dr Instruksi Presiden (Inpres) No 1 Tahun 2022 tentang Optimalisasi Pelaksanaan Program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional).

Sumber : Himpuh.or.id (06 Jan 2023)

Share:

3 Jul 2020

Apakah Anak Wajib Dampingi Ibu Berangkat Haji?

Kewajiban haji antara satu orang dengan lainnya berbeda. Ilustrasi haji.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA—Ketika ibu meminta anak untuk berangkat haji bersama-sama, maka anak dianjurkan untuk memenuhi permintaan ibu selama memenuhi syarat wajib haji yaitu kemampuan.

Perbuatan mulia tersebut termasuk pelengkap amal dalam berbakti kepada orang tua. Alumni Al Imam University Riyadh, Wafa binti Abdul Aziz As-Suwailim,  mengatakan terkait kewajiban anak untuk memenuhi permintaan ini memang belum ditemukan penjelasan lugas dari fikih klasik secara spesifik. Namun, ketaatan ini bisa dikiaskan dengan paksaan bagi mahram untuk mendampingi wanita tersebut menunaikan ibadah haji. 

Menurutnya, pandangan ulama terkait masalah tersebut bisa dikiaskan. Sebab, ketika mahram seorang wanita enggan mendampinginya untuk menunaikan ibadah haji, ia tidak berkewajiban atau tidak berhak dipaksa  mendampingi menunaikan ibadah haji.

Ini bila merujuk pandangan ahli fiqih dari kalangan Hanafiyah, tekstual pendapat Malikiyah, juga dinyatakan kalangan Syafi'iyah. "Dan inilah Mazhab kalangan Hanabilah," katanya. 

Pandangan ini juga didasarkan pada dalil bahwa haji adalah amalan yang berat, sulit, dan suatu beban yang besar, sehingga tidak seorang pun diwajibkan menunaikan amalan ini untuk orang lain, sebagaimana mahram seorang wanita tidak diwajibkan menunaikan haji untuknya ketika yang bersangkutan tengah sakit.

Karena itu, anak tidak diwajibkan untuk menunaikan haji mendampingi ibunya. Hal ini dikarenakan tidak diwajibkannya haji untuk mahram pendamping. Tidak ada pengecualian wanita yang dimaksud, maka ibu pun termasuk di dalamnya.    

"Dalil yang mereka sebut kan juga bisa digunakan sebagai dalil anak tidak diwajibkan menunaikan haji mendapingi ibu," katanya.

Menurutnya terkait masalah ini, kata Wafa, ia pernah berkonsultasi kepada  Syekh Muhammad Shalih bin Utsaimin. Beliau menjawab ketika ibu meminta untuk berangkat haji bersama-sama, anak tidak berkewajiban memenuhi permintaan itu, dan itu bukan tindakan durhaka, mengingat beban berat selama menunaikan ibadah haji. "Baik haji wajib ataupun sunah," katanya.

Sementara ketika anak sudah berniat bulat untuk menunaikan haji, lalu ibunya meminta untuk mengajak serta bersama-sama, dan tidak ada dampak negatif bagi si anak atas permintaan itu karena saat itu si anak berkewajiban menuruti dan mengajak serta ibu.   
Share:

Umroh Januari 2026