Keutamaan Umroh Ramadhan
Umroh Ramadhan dapat dikatakan sebagai ibadah kecil setara haji. Hal ini dikarenakan kualitas ibadah yang semestinya ringan, justru dirasa lebih berat ketika dilaksanakan dalam keadaan berpuasa dahaga dan lapar. Hal ini menambah nilai pahala jikalau dilaksanakan dengan sepenuh hati dan penuh rasa keikhlasan.
Umroh Ramadhan sendiri berkaitan dengan kelonggaran waktu dalam pelaksanaan rukun-rukun haji. Diantaranya adalah thawaf, sa’i, halq atau taqsir, dan seterusnya. Setiap ibadah bernilai berbeda-beda. Semakin berat pelaksanaanya justru dirasa semakin nikmat, subhanallah. Oleh karenanya, disarankan bagi setiap umat muslim untuk benar-benar menetapkan hati dengan niat yang baik menjalankan ibadah umroh hanya karena Allah ta’alla.
Jenis umroh Ramadhan sendiri dibedakan menjadi dua jenis. Ada ‘tammatu umrat al’ yang dilaksanakan bersamaan dengan ibadah haji. Adapun ‘mufradah al Al-umrat’ yang dilakukan secara terpisah dengan ibadah haji. Dari kedua jenis ibadah umroh yang telah disebutkan, masing-masing jenis memiliki tingkat kenikmatan tersendiri bagi si pelaku. Mengenai pilihan, hal itu dikembalikan sepenuhnya kepada si pelaku untuk menjalaninya.
Melakukan ibadah umroh akan bernilai sama dengan pahala haji jika dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Banyak orang telah merasakan nikmatnya Ramadhan di tanah suci. Semua berpendapat bahwa intensitas ibadah justru lebih meningkat dari biasanya. Siapkah anda tahun ini melaksanakan ibadah umroh ramadhan? Hanya anda yang tau. Allah akan mengabulkan doa-doa keinginan hambanya. Namun jika Fasilitas (dana dan waktu) telah ada, maka laksanakanlah. Sebab bisa jadi ini adalah Umroh Anda Yang terakhir, sebab, usia hanya Allah yang tau. Insya Allah.
LINK TERKAIT
Biaya Hisap Rokok 10 Tahun Lebih Besar dari Ongkos Naik Haji
Jakarta, Merokok bisa diibaratkan seperti orang membakar uang kertas. Bagaimana tidak, biaya yang perokok habiskan untuk 10 tahun merokok saja sudah melebihi biaya naik haji, uang muka rumah atau uang pangkal masuk perguruan tinggi.
Perokok mungkin tidak sadar bahwa kebiasaan buruknya menghisap rokok sangat memerlukan biaya tinggi. Ada banyak kesempatan yang hilang ketika orang menjalani kebiasaan merokok 10 tahun saja.
Bila dihitung-hitung, jika seorang pecandu menghisap 1 bungkus rokok saja per hari, maka ia harus mengeluarkan sekitar Rp 10.000 setiap hari, Rp 300.000 sebulan dan Rp 3.650.000 per tahun.
Bila kebiasaan ini berlangsung selama 10 tahun saja, artinya ia sudah menghabiskan biaya sekitar Rp 36.500.000.
"Itu biaya yang habis untuk dibakar, bahkan melebihi biaya naik haji, uang pangkal masuk S1 UI, DP rumah, renovasi rumah, DP mobil, beli motor, modal usaha kecil, franchise makanan ringan, dan lain-lain," ujar Abdillah Ahsan, peneliti Lembaga Demografi FEUI dalam acara temu media di Gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta, Jumat (25/5/2012).
Sayangnya, berdasarkan Data Lembaga Demografi FEUI 2009, ada 68 persen (7 dari 10) rumah tangga di Indonesia yang memiliki pengeluaran untuk membeli rokok. Bahkan juga terdapat 57 persen (6 dari 10) rumah tangga termiskin yang memiliki pengeluaran untuk membeli rokok.
Bila dibandingkan dengan keperluan pokok lainnya, tingginya kesempatan yang hilang akibat pengeluaran untuk rokok pada rumah tangga perokok termiskin bisa lebih besar dari 11 kali pengeluaran untuk daging, 7 kali untuk pengeluaran buah-buahan, 6 kali pengeluaran pendidikan, 5 kali pengeluaran susu telur atau 5 kali pengeluaran kesehatan.
"Artinya, kalau keluarga miskin yang merokok itu berhenti merokok dia bisa beli daging 11 kali lipat," tegas Abdillah, yang juga merupakan pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Untuk itu, Abdillah menyarankan hal terbaik bagi keluarga miskin perokok adalah berhenti merokok. Dengan begitu, uang yang 'dibakar' untuk menghisap rokok bisa dialihkan untuk memenuhi kepentingan pokok lainnya.
"Banyak orang miskin yang menyatakan susah untuk bayar uang sekolah, untuk makan. Padahal mereka bisa membeli rokok. Artinya kan ada alokasi dana untuk itu," imbuh Abdillah.
Perokok mungkin tidak sadar bahwa kebiasaan buruknya menghisap rokok sangat memerlukan biaya tinggi. Ada banyak kesempatan yang hilang ketika orang menjalani kebiasaan merokok 10 tahun saja.
Bila dihitung-hitung, jika seorang pecandu menghisap 1 bungkus rokok saja per hari, maka ia harus mengeluarkan sekitar Rp 10.000 setiap hari, Rp 300.000 sebulan dan Rp 3.650.000 per tahun.
Bila kebiasaan ini berlangsung selama 10 tahun saja, artinya ia sudah menghabiskan biaya sekitar Rp 36.500.000.
"Itu biaya yang habis untuk dibakar, bahkan melebihi biaya naik haji, uang pangkal masuk S1 UI, DP rumah, renovasi rumah, DP mobil, beli motor, modal usaha kecil, franchise makanan ringan, dan lain-lain," ujar Abdillah Ahsan, peneliti Lembaga Demografi FEUI dalam acara temu media di Gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta, Jumat (25/5/2012).
Sayangnya, berdasarkan Data Lembaga Demografi FEUI 2009, ada 68 persen (7 dari 10) rumah tangga di Indonesia yang memiliki pengeluaran untuk membeli rokok. Bahkan juga terdapat 57 persen (6 dari 10) rumah tangga termiskin yang memiliki pengeluaran untuk membeli rokok.
Bila dibandingkan dengan keperluan pokok lainnya, tingginya kesempatan yang hilang akibat pengeluaran untuk rokok pada rumah tangga perokok termiskin bisa lebih besar dari 11 kali pengeluaran untuk daging, 7 kali untuk pengeluaran buah-buahan, 6 kali pengeluaran pendidikan, 5 kali pengeluaran susu telur atau 5 kali pengeluaran kesehatan.
"Artinya, kalau keluarga miskin yang merokok itu berhenti merokok dia bisa beli daging 11 kali lipat," tegas Abdillah, yang juga merupakan pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Untuk itu, Abdillah menyarankan hal terbaik bagi keluarga miskin perokok adalah berhenti merokok. Dengan begitu, uang yang 'dibakar' untuk menghisap rokok bisa dialihkan untuk memenuhi kepentingan pokok lainnya.
"Banyak orang miskin yang menyatakan susah untuk bayar uang sekolah, untuk makan. Padahal mereka bisa membeli rokok. Artinya kan ada alokasi dana untuk itu," imbuh Abdillah.












