• 🏆 Haji Plus 2026

    Wujudkan impian berhaji lebih cepat bersama travel yang amanah dan terpercaya.

  • 🕋 Umroh 2026

    Pilihan paket lengkap dengan harga terbaik, maskapai premium, hotel nyaman, dan pelayanan maksimal.

  • ⭐ Mengapa Memilih Kami?

    Legalitas resmi - Berpengalaman - Ribuan jamaah - Harga transparan - Pembimbing profesional - Pelayanan hingga pulang

  • 📖 Panduan Haji Dan Umroh

    Persyaratan pendaftaran, perlengkapan yang perlu dibawa, doa, manasik, hingga tips selama berada di Tanah Suci.

  • 📱 Konsultasi Dan Pendaftaran

    Masih ada pertanyaan? Hubungi tim kami sekarang. Konsultasi gratis dan dapatkan informasi paket Haji Plus maupun Umroh yang sesuai kebutuhan Anda.

Raudhah Taman Surga



Raudhah Taman Surga

Raudhatul Jannah atau disebut Raudhah merupakan suatu tempat di dalam Kompleks Masjid Nabawi. Di tempat itu, jamaah haji memanjatkan doa dengan khusyuk, mengikuti sunah Rasulullah SAW.

Nabi Muhammad SAW memberi nama tempat tersebut Raudhatul Jannah atau Taman Surga. Semula lokasi Raudhah berada di luar Masjid Nabawi atau tepatnya di antara rumah Nabi dan mighrab di masjid. Namun seiring perluasan Masjid Nabawi yang telah dilakukan beberapa kali, lokasi itu saat ini berada di dalam masjid.

Dahulu, Nabi Muhammad sering duduk untuk membacakan wahyu dan mengajarkannya kepada sahabatnya di Raudhah. Nabi pernah bersabda, "Antara kamarku dan mimbarku terletak satu bagian dari taman surga." Sedangkan kamar yang dimaksud sekarang menjadi makam Nabi, sesuai wasiatnya yang mengatakan, "Tidak dikuburkan seorang Nabi, kecuali di tempat dia meninggal."

Berdasarkan hadis itulah kebanyakan umat Islam berusaha untuk bisa berada di Raudhah. Jamaah berupaya melaksanakan shalat di tempat itu. Mereka berharap dengan bisa berada di salah satu taman surga tersebut nantinya akan dimasukkan sebagai ahli surga. Selanjutnya, mereka akan berziarah ke makam Nabi dan dua sahabat yang dimakamkan di sebelahnya; Abu Bakar Asshidiq dan Umar bin Al-Kaththab.

Ruangan itu tidak seberapa luas, tak lebih 144 meter persegi. Saat ini, lokasi tersebut ditandai lima pilar besar berwarna putih dengan kaligrafi khas yang indah. Bagian lantainya digelar ambal berwarna putih, juga dengan ornamen unik yang khas dan berbeda dengan warna ambal yang digelar di lantai bagian lain di Masjid Nabawi.

Sudah menjadi pemandangan umum, setiap musim haji tiba para jamaah yang singgah di Madinah akan berebut untuk bisa masuk ke lokasi itu. Bukan hanya jamaah, melainkan petugas dari Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) juga memanfaatkan berbagai peluang dan kelonggaran waktu untuk menyempatkan beribadah di Raudhah.

Meskipun jamaah Indonesia belum tiba, jamaah negara lain, seperti dari Turki dan Iran, yang tiba di Madinah maupun warga asli Saudi juga ikut memenuhi ruangan itu. Tetap sulit juga mencari tempat shalat yang nyaman apalagi sekadar duduk-duduk untuk membaca ayat-ayat Alquran; salah-salah kita akan terinjak orang yang ingin masuk. Tak jarang, kita diminta petugas ketertiban masjid untuk segera keluar, memberi kesempatan bagi yang lain.




Share:

Maqam Ibrahim, Tempat Dikabulkannya Doa (2)


Selain Maqam Ibrahim, Hijir Ismail, Pancuran Emas, Hajar Aswad dan Multazam yang menjadi tempat dikabulkannya doa di sekitar Ka'bah, menurut Buya, tempat lainnya yang mustajabah adalah Rukun Iraqi, yaitu sudut Ka'bah antara Ka'bah sebelah timur dengan Hijir Ismail. 

Selain itu, adalah Rukun Syami, yaitu antara sudut ka'bah sebelah barat dengan Hijir Ismail. ''Yang menjadi tempat mustajabah juga adalah Rukun Yamani, yaitu sudut Ka'bah yang menuju putarawan tawaf Hajar Aswad atau sudut Hajar Aswad,'' jelasnya. 

Ia juga menyebutkan, tempat mustajabah doa lainnya di dalam Masjidil Haram adalah air zam zam, Shafa dan Marwa. ''Intinya, Masjidil Haram dan sekitarnya adalah mustajabah atau tempat dikabulkannya doa,'' ujarnya menjelaskan.

Berdasarkan pengalamannya yang bertahun-tahun membimbing jamaah haji, Buya mengungkapkan tips nyaman melaksanakan shalat di tempat-tempat mustajabah doa. Misalnya, di Maqam Ibrahim. 

Begitu selesai melaksanakan tawaf, jamaah disarankan untuk mencari celah-celah yang ada di sekitar Maqam Ibrahim. ''usahakan shalat sunah tawaf tidak berjamaah, tapi nafsi-nafsi (sendiri-sendiri),'' papar Buya menyarankan.

Lebih lanjut Buya menerangkan, di musim-musim haji, saat calon jamaah haji sudah berdatangan di Masjidil Haram, tidak mudah mencari tempat untuk melakukan shalat di Maqam Ibrahim. ''Kalo pas musim haji, suasana di sekitar Ka'bah, sangat padat,'' jelasnya.

Mengingat tingginya kedudukan tempat-tempat tersebut untuk dikabulkannya setiap doa yang dipanjatkan, para calon jamaah haji dari berbagai negara, begitu selesai melaksanakan tawaf, langsung bergegas mencari tempat-tempat mustajabah tersebut.

''Karena itu, para calon jamaah haji dari Indonesia harus pandai-pandai mencari tempat di sekitar Maqam Ibrahim atau tempat mustajabah lainnya,'' ujarnya menambahkan.

Buya menambahkan, tempat dikabulkannya doa di luar Masjidil Haram adalah di Arafah, Muzdalifah, Mina dan tempat melempar jumrah, baik Ula, Wustha mau pun Aqabah.


Share:

Maqam Ibrahim, Tempat Dikabulkannya Doa (1)


Maqam Ibrahim, Tempat Dikabulkannya Doa

Pembiming KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) Daarul Ulum Kabupaten Bogor, KH Anwar Hidayat SH menyatakan maqam Ibrahim adalah salah satu mustajabah (tempat dikabulkannya) doa di Tanah Suci.

''Karena itu, para jamaah haji yang baru selesai melakukan tawaf, disunnahkan melaksanakan shalat sunah tawaf di Maqam Ibrahim,'' ungkap kyai Anwar Hidayat kepada Republika di Bogor, Rabu (3/9).

Menurut pria kelahiran Sukabumi Jawa Barat yang telah lebih dari 30 tahun melakukan bimbingan ibadah haji, tempat-tempat yang disebut mustajabah (dikabulkan doa), selain maqam Ibrahim adalah fi jaufil Ka'bah (dalam Ka'bah atau sama dengan masuk di dalam Hijir Ismail).

Selain itu, kata kyai Anwar, adalah Hajar Aswad, Multazam yakni antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah, Pancuran Emas, yaitu tempat jatuhnya air dari atas Ka'bah ke Hijir Ismail.

Berdasarkan ilmu pengetahuan yang didapat dari berbagai kitab yang dipelajari, Buya, begitu lelaki ini akrab disapa, maqam Ibrahim bukanlah tempat imam shalat berjamaah di Masjidil Haram.

''Kalau imam shalat berjamaah di Masjidil Haram berada di Maqam Ibrahim, lantas bagaimana dengan orang-orang yang menjadi makmum shalat dan menempel ke ka'bah? Pasti tidak sah shalatnya,'' jelas Buya.

Buya menjelaskan secara definisi tentang Maqam Ibrahim. Maqam yang berasal dari bahasa Arab terambil dari kata-kata qoma-yaqumu-qauman yang berarti berdiri.

''Jadi, maqam itu bersifat isim makan atau menunjukkan tempat berdirinya Nabi Ibrahim di atas batu yang didatangkan dari Surga untuk membangun Ka'bah dengan Nabi Ismail, yang saat itu batu Ka'bah berserakan di mana-mana, setelah terjadinya tsunami pada jaman Nabi Nuh,'' papar Buya menjelaskan.
Dan Maqam ibrahim atau batu bekas berdirinya Nabi Ibrahim membangun Ka'bah berada di dalam rangka besi beratap kubah yang berwa kuning keemasan. ''Jadi, maqam itu bukan kuburan,'' jelas Buya mengingatkan.


Share:

Postingan Populer

Label

Arsip Blog

Umroh Promo by Emirate

Umroh 9 hari dari Ternate by GARUDA

Umroh 12 Hari by GARUDA

WhatsApp Kami