• 🏆 Haji Plus 2026

    Wujudkan impian berhaji lebih cepat bersama travel yang amanah dan terpercaya.

  • 🕋 Umroh 2026

    Pilihan paket lengkap dengan harga terbaik, maskapai premium, hotel nyaman, dan pelayanan maksimal.

  • ⭐ Mengapa Memilih Kami?

    Legalitas resmi - Berpengalaman - Ribuan jamaah - Harga transparan - Pembimbing profesional - Pelayanan hingga pulang

  • 📖 Panduan Haji Dan Umroh

    Persyaratan pendaftaran, perlengkapan yang perlu dibawa, doa, manasik, hingga tips selama berada di Tanah Suci.

  • 📱 Konsultasi Dan Pendaftaran

    Masih ada pertanyaan? Hubungi tim kami sekarang. Konsultasi gratis dan dapatkan informasi paket Haji Plus maupun Umroh yang sesuai kebutuhan Anda.

Maqam Ibrahim



Maqam Ibrahim

Usai melakukan thawaf—mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran—jamaah haji disunahkan untuk shalat sunah di depan Maqam Ibrahim. Tempat ini bukanlah kuburan Nabi Ibrahim atau tempat lahir pembangun Ka’bah. Sebenarnya, apakah itu Maqam Ibrahim? 

Sejarah mengisahkan Ibrahim dan putranya, Ismail, diperintahkan Allah untuk menyeru manusia agar menyembah atau beribadah kepada Allah. Namun, saat itu tak ada tempat yang bisa digunakan untuk keperluan beribadah kepada Allah.

Karena itulah Ibrahim berharap ada tempat yang bisa digunakan untuk lokasi berkumpulnya manusia, yaitu tempat berkumpul semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Keinginan Ibrahim ini dipenuhi oleh Allah. 

Dan, Allah memerintahkannya untuk membangun Baitullah, Ka’bah. Setelah menerima mandat ini, Ibrahim berkata kepada putranya, “Ismail, Allah telah memerintahkan aku, maukah engkau membantuku?”

“Ya, saya mau,” jawab Ismail.

“Allah telah menyuruhku untuk membangun sebuah rumah di sini,” ujarnya seraya menunjuk ke sebuah bukit kecil yang lebih tinggi dari tanah sekitarnya. Mereka kemudian menuju ke tempat itu dan mulai membangun pondasi Ka’bah. 

Ismail yang mengumpulkan dan membawa batu-batu dan ayahnya, Ibrahim, menyusunnya menjadi bangunan/dinding. Setelah dinding bangunan itu menjadi tinggi, Ismail membawakan sebuah batu besar dan meletakkannya di depan ayahnya untuk tempat berpijak. 

Dengan batu pijakan ini Ibrahim dapat melanjutkan membangun Kabah. Batu tempat pijakan Nabi Ibrahim ini dapat naik turun sesuai dengan keinginan Ibrahim.

Ketika bangunan itu selesai, keduanya lalu mengitari Ka’bah dan berkata, “Wahai Tuhan kami, terimalah amalan kami ini.” Malaikat Jibril lalu turun dari surga dan menunjukkan cara-cara beribadah haji (ritual-ritual haji) kepada Ibrahim. 

Kemudian, Ibrahim menginjak batu itu—yang bisa naik melebihi ketinggian bukit-bukit yang ada di sekitarnya—dan berseru kepada manusia, “Wahai manusia, taatilah Tuhanmu.”

Batu besar bekas pijakan Nabi Ibrahim inilah yang disebut sebagai Maqam Ibrahim. Kini, batu itu masih ada dan terletak di dekat Ka’bah—sekitar 10 meter dari Ka’bah sebelum Hijir Ismail kalau kita memulai thawaf. 

Batu bekas telapak kaki Nabi Ibrahim ini kini tersimpan rapi dalam sebuah bangunan cungkup warna kuning dengan terali besi dan berkaca tebal agar tak terjamah oleh tangan-tangan manusia.


Share:

Tentang Hijir



Tentang Hijir

Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin mengatakan dalam kumpulan fatwanya bahwa banyak masyarakat awam menyebut Hijir ini dengan Hijir Ismail. 

Padahal, sebutan ini keliru karena tidak ada dasarnya. Ismail sendiri tidak pernah mengetahui mengenai keberadaan Hijir ini. Sebab, keberadaan Hijir dilatarbelakangi oleh kesepakatan kaum Quraiys untuk membangun kembali Ka’bah.

Kesepakatan bermula pada pembangunan ulang Ka’bah di atas fondasi Ibrahim yang memanjang ke arah utara. Namun, tatkala seluruh dana pembangunan Ka’bah telah terkumpul dan pembangunan hendak dimulai, ternyata anggaran tersebut tidak memadai. Sehingga tidak mencukupi apabila Ka’bah dibangun berdasarkan fondasi Ibrahim.

Akhirnya, mereka bersepakat, “Kita bangun saja sesuai dengan dana yang terkumpul, sedangkan sisanya kita biarkan berada di luar. Dan kita beri penghalang agar tak seorang pun melakukan thawaf di bagian dalamnya.”

Dari sini asal muasal dinamakan Hijir, karena kaum Quraiys menutupinya dengan pembatas akibat kekurangan dana pembangunan.


Oleh karena itu, Nabi SAW pernah bersabda kepada Aisyah, “Kalaulah bukan karena kaummu baru saja meninggalkan kekufuran, pasti aku telah membangun Ka’bah di atas fondasi Ibrahim dan membuatkan dua pintu untuknya; pintu masuk dan pintu keluar.”

Dalam Mu’jam al-Manahi al-Lafzhiyah, Syekh Bakar Abu Zaid berkata, “Para sejarawan menyebutkan bahwa Ismail bin Ibrahim dikubur di Hijir Baitul Atiq. Hampir tidak ada buku sejarah umum dan sejarah Makkah yang menafikan kabar ini. 

Karena itulah, Hijir ini dihubungkan kepada Ismail. Dan tidak ada fakta sejarah lain kecuali itu. Oleh karena itu, hendaknya disebut Hijir, bukan Hijir Ismail. Wallahu’alam!


Share:

Hijir Ismail


Hijir Ismail


Hijir Ismail  juga disebut dengan Hijir Ka’bah, yaitu bagian yang ditinggalkan kaum Quraiys ketika pembangunan ulang Ka’bah dari fondasi Ibrahim.

Untuk menandai bahwa tempat tersebut bagian dari Ka’bah, mereka membuat pembatas (hijir) di atas tempat itu. Karena itulah dinamakan Hijir.

Akan tetapi, terdapat tambahan batas Baitullah padanya. Dalam hadits disebutkan, tambahan itu sepanjang tujuh hasta. Tempat ini pernah diikutkan lagi dalam bangunan Ka’bah oleh Ibnu Az-Zubair. Namun, tatkala dihancurkan Al-Hajjaj Ats-Tsaqafi, tempat ini kembali seperti ukuran semula.

Di Hijir (sekarang disebut Hijir Ismail) juga disebutkan terdapat kuburan Hajar, ibunda Ismail. Namun, kabar ini tidak pasti, sebagaimana ditegaskan para ulama.

Menurut Aram bin Al-Ashbagh, Hijir Ismail merupakan pinggiran Kota Madinah. Rahadiyah berkata, “Di hadapan Madinah ada sebuah desa yang disebut dengan Hijir. Di desa itu, terdapat beberapa mata air dan sumur-sumur milik Bani Sulaim secara khusus. Di hadapannya ada sebuah gunung yang tidak terlalu tinggi yang disebut Puncak Hijir.” (Atlas Haji & Umrah karya Sami bin Abdullah Al-Maghlouth)


Share:

Postingan Populer

Label

Arsip Blog

Umroh Promo by Emirate

Umroh 9 hari dari Ternate by GARUDA

Umroh 12 Hari by GARUDA

WhatsApp Kami