• 🏆 Haji Plus 2026

    Wujudkan impian berhaji lebih cepat bersama travel yang amanah dan terpercaya.

  • 🕋 Umroh 2026

    Pilihan paket lengkap dengan harga terbaik, maskapai premium, hotel nyaman, dan pelayanan maksimal.

  • ⭐ Mengapa Memilih Kami?

    Legalitas resmi - Berpengalaman - Ribuan jamaah - Harga transparan - Pembimbing profesional - Pelayanan hingga pulang

  • 📖 Panduan Haji Dan Umroh

    Persyaratan pendaftaran, perlengkapan yang perlu dibawa, doa, manasik, hingga tips selama berada di Tanah Suci.

  • 📱 Konsultasi Dan Pendaftaran

    Masih ada pertanyaan? Hubungi tim kami sekarang. Konsultasi gratis dan dapatkan informasi paket Haji Plus maupun Umroh yang sesuai kebutuhan Anda.

Hikmah Perjalanan Ibadah Haji (Bagian 4)



41. MENDIDIK MANUSIA UNTUK MENCINTAI SELURUH NABI -alaihimus salam-, hal ini tampak dari :

* Pemenuhan panggilannya Nabi Ibrahim ketika memanggil manusia untuk melaksanakan ibadah haji. * Menziarahi ka'bah yang dibangun olehnya bersama Ismail. * Dan sa'i di jalannya siti hajar ketika mencarikan air untuk Isma'il.

42. MENDIDIK MANUSIA UNTUK MENJALANKAN MACAM-MACAM IBADAH, seperti: Thowaf, sa'i, sholat, mabit, melempar, menyembelih, tahallul, dll. Sehingga seorang muslim terdidik untuk tidak hanya terpaku dalam satu macam ibadah saja, tapi menjadikan agar ibadahnya bervariasi dan merasakan nikmatnya melakukan ibadah.

43. MENDIDIK MANUSIA UNTUK MENGAGUNGKAN ALLAH,

44. MENDIDIK MANUSIA UNTUK MENCINTAI ALLAH SWT.
     Siapapun yang mau merenungi pemandangan jutaan jama'ah ibadah haji, dan merenungi bagaimana Allah memberi mereka rizki, mengatur, menjaga, dan menanggung kebutuhan mereka, ini akan menuntunnya untuk mencintai-Nya. Dengan ini dan poin sebelum ini, akan terkumpul kecintaan dan pengagungan pada Allah, dan inilah hakekat dari ibadah.

45. MENDIDIK MANUSIA UNTUK MENGETAHUI JASA Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dan para sahabatnya -rodliallohu anhum- dalam menyebarkan agama ke seluruh penjuru dunia. Ketika anda merenungi jumlah jama'ah haji yang sangat besar itu, mereka memiliki daerah, warna, dan bahasa yang beragam, tentu anda akan tahu jasa para pendahulu dalam menyebarkan agama Alloh ini. Lihatlah bagaimana ia bisa sampai ke negara-negara Asia Timur, Afrika, bahkan Eropa. Semoga Alloh membalas mereka dengan balasan yang paling baik atas tugas berat yang diembannya dengan sebaik-baiknya, dan semoga Allah mengampuni kita atas kekurangan kita dalam meneruskannya, dan kita memohon kepada Allah SWT agar membantu kita dalam urusan ini.

46. MENDIDIK MANUSIA

47. MENDIDIK MANUSIA AGAR MERASAKAN PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN INI. Meski dengan banyaknya jama'ah haji, adanya keramaian, berdesakan, berat, dan lelah, tetap saja jiwa orang-orang itu lembut, dan jarang terjadi masalah, suara tinggi, dan saling marah. Sebabnya adalah -wallohu a'lam-, karena ibadah yang sedang mereka lakukan, mempengaruhi keadaan jiwa mereka, hingga merubahnya menjadi jiwa yang tinggi, yang tidak peduli dengan hal-hal yang remeh.

Beda halnya dengan pemandangan di pasar misalnya, banyak sekali terjadi jeritan, dan suara yang tinggi, banyak pula terjadi masalah dan hal-hal buruk lainnya. Itu semua memberikan pelajaran berharga bagi seorang muslim, tentang adanya perbedaan yang jelas terlihat antara dua keadaan itu.

48. MENDIDIK MANUSIA UNTUK SELALU SADAR TANGGUNG JAWAB. Ketika terjadi kesalahan dari para jama'ah haji kadang sebagian kesalahannya dalam hal-hal yang diperkirakan semua orang tahu bahwa itu salah, ini mendidik muslim untuk sadar tanggung-jawab yang dibebankan di pundaknya untuk memberitahu saudaranya, menyodorkan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka, dan menghilangkan kebodohan yang ada pada mereka. Penulis yakin inilah yang bisa memberi manfaat, bukan malah mencemooh atau menuduh yang bukan-bukan pada mereka yang salah.

49. MELATIH MANUSIA UNTUK BERJIHAD, DENGAN ADANYA MASYAQQOH, LELAH, DAN KEINGINAN HATI YANG TAK DITURUTI. Oleh karena itulah Nabi -shollallohu alaihi wasallam- menamainya jihad, sebagaimana dalam sabdanya: "Bagi kalian (para wanita) ada jihad yang tanpa perang, yaitu ibadah haji dan umroh" (HR. Bukhori)

50. MENDIDIK MANUSIA UNTUK BANGGA DENGAN AGAMA DAN KEISLAMANYA. Ini tampak dari keadaan setan di Hari Arofah, telah disebutkan dalam kitab Al-Muwaththo' karya Imam Malik, bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- pernah bersabda: "Tiada suatu haripun, yang saat itu setan terlihat paling kerdil, paling hina, dan paling marah, melebihi Hari Arafah" (dihasankan oleh Ibnu Abdil Barr -rohimahulloh-). Hal ini juga tampak dari bagaimana Allah membangga-banggakan hambanya yang sedang wukuf di Arafah di hadapan para malaikat, sebagaimana disebutkan dalam shohih muslim.

Akhirnya inilah sebagian pelajaran berharga dari hikmah ibadah haji untuk jiwa manusia, tentunya pelajaran yang belum kami sebutkan di sini jauh lebih banyak dari itu Aku memohon pada Alloh semoga menjadikan tulisan ini bermanfaat wallohu a'lam Akhir kata, semoga Allah memberikan sholawat dan salam-Nya pada Nabi kita Muhammad. -------------------------
Share:

Hikmah Pelajaran Ibadah Haji (Bagian 3)


26. MENDIDIK MANUSIA UNTUK MENEKAN SYAHWATNYA SECARA KHUSUS, oleh karena itu akad nikah menjadi larangan saat dalam keadaan ihram, bahkan sampai rofats dan jima' pun dilarang. Tidak diragukan, ini mendidik seorang muslim agar waspada dan hati-hati dengan syahwat ini.

27. MENDIDIK MANUSIA UNTUK MENUNAIKAN IBADAHNYA SESEMPURNA DAN SEBAIK MUNGKIN, oleh karena itu Allah berfirman: "Barangsiapa yang berkewajiban haji, maka janganlah ia melakukan rofats (hubungan suami istri), kefasikan, dan debat (kusir) dalam ibadah hajinya", beliau -shollallohu alaihi wasallam- juga bersabda: "Haji yang mabrur itu, tiada balasan lain baginya kecuali surga" (Muttafaqun Alaih). Ini semua mendidik muslim untuk menjaga kualitas ibadahnya.

28. MENDIDIK MANUSIA UNTUK MENYESUAIKAN DIRINYA SAAT KEADAAN DAN KEBIASAAN LINGKUNGANNYA BERUBAH. Tentunya sepanjang tahun jama'ah haji terbiasa melakukan sesuatu di negaranya, lalu ketika melakukan ibadah haji, ia harus memaksa dirinya untuk menyesuaikan dengan waktu dan jam yang sedang ia jalani. Inilah maksud dari arahan Umar r.a. saat mengatakan: "Prihatinlah, karena nikmat-nikmat yang ada itu tidak akan langgeng selamanya".

29. MENDIDIK MANUSIA UNTUK BANYAK BERDOA. Dalam manasik ibadah haji, disunnahkan bagi muslim untuk berdoa pada Tuhannya, di kebanyakan tempat yang dikunjunginya, misalnya:

* Saat thowaf. * Saat sholat sunat 2 rokaat setelah thowaf. * Saat minum air zamzam. * Saat naik ke bukit Shofa dan Marwa. * Saat di tengah-tengah pelaksanaan sa'i. * Saat Hari Arofah * Setelah terbit fajarnya hari nahr (tanggal 10 dzulhijjah) hingga langit menguning. * Setelah melempar dua jamarot, Shughro dan Wustho.

Dan tempat-tempat lainnya, itu semua mendidik seorang muslim untuk selalu mendekatkan diri pada Tuhannya dalam doa dan selalu kembali pada-Nya.

30. MENDIDIK MUSLIM UNTUK TA'ABBUD DENGAN SIFAT MAHA MENDENGAR DAN MAHA MELIHATNYA ALLOH TA'ALA, sebagaimana madzhabnya Ahlus sunnah wal jama'ah dalam menetapkan sifat dan maknanya, ini tampak dalam hal-hal berikut ini:

* Banyaknya bahasa yang beraneka ragam, suara yang berbeda-beda, kebutuhan yang bermacam-macam, pun begitu, Dia yang maha suci tetap mampu mendengarkan doanya ini, dan mengabulkan doanya itu, serta mengetahui seluruh bahasa mereka. * Dia maha tahu niat para jama'ah dalam melaksanakan ibadah haji yang berbeda-beda, dan seberapa tulus dan ikhlasnya mereka, meski jumlah mereka sangat banyak.

31. MELATIH MANUSIA, UNTUK TIDAK MENGANGGAP REMEH APAPUN YANG DIHARAMKAN ALLOH, oleh karena itulah dalam ibadah haji ini, ada beberapa kalimat yang diulang-ulang, diantaranya :

* Tanah haram. * Bulan haram. * Larangan-larangan ketika sedang ihram.

Dengan begitu seorang muslim terlatih untuk mengagungkan apa yang diharamkan oleh Allah SWT dari sekian banyak sesuatu yang diharamkannya.

32. MELATIH MANUSIA UNTUK MENEGUHKAN PRINSIP "LOYAL PADA KAUM MUSLIMIN DAN BERLEPAS DIRI DARI KAUM KAFIRIN". Oleh karena itulah disunnahkan dalam sholat sunat setelah thowaf untuk membaca surat alkafirun, yang didalamnya menekankan dan menuangkan dasar prinsip ini.

Termasuk diantara bukti paling nampak dari petunjuk menyelisihi kaum musyrikin adalah, beranjaknya para jama'ah haji (dari Muzdalifah) sebelum terbitnya matahari.

33. MENDIDIK MANUSIA UNTUK TENANG, TERTIB, DAN MEMPRAKTEKKAN PRINSIP ITSAR (mendahulukan orang lain dalam hal duniawi). Oleh karena itulah dahulu Rosul -shollallohu alaihi wasallam- ketika meninggalkan Arafah menyabdakan: "tenang dan tenanglah", karena saat itu merupakan momen yang biasanya rame dan memungkinkan terjadinya saling menyakiti antara kaum muslimin.

Sifat waqor dan tenang adalah sifat yang selayaknya melekat pada diri seorang muslim, sebagaimana Allah memberikan sifat itu pada mereka dalam kitab-Nya: "yaitu mereka yang berjalan di atas bumi dengan sopan"

34. MENDIDIK MANUSIA UNTUK MENYATUKAN KATA, MESKI KEADAAN DAN CARA MANASIK MEREKA BERBEDA-BEDA. Ini merupakan dasar yang agung, dan ditunjukkan dalam banyak nash syariat dan juga tampak dari keadaan para sahabat -rodliallohu anhum-.

35. MELATIH MANUSIA UNTUK MENGINGAT HARI KIAMAT, yakni dengan banyaknya orang yang berkumpul saat itu, bahkan pada hari kiamat nanti, Allah akan mengumpulkan manusia dari awal hingga akhir penciptaan. Tak diragukan lagi, dengan mengingat hari kiamat, hati seorang muslim akan hidup dan memiliki pengaruh besar dalam kekhusyu'an dan ibadahnya.

36. MENDIDIK MANUSIA UNTUK MEMPERHATIKAN DAN MENGHARGAI WAKTU. Hari arofah adalah kesempatan yang tak ada gantinya bila telah hilang, hari-hari tasyriq adalah hari-hari yang diperuntukkan untuk berdzikir (mengingat Allah), dan di 10 hari pertama bulan dzul hijjah amalan ibadah dilipat-gandakan pahalanya, itu semua melatih seorang muslim untuk memanfaatkan waktunya untuk apapun yang bermanfaat baginya.

37. MENDIDIK MANUSIA UNTUK MENJAGA UKHUWWAH IMANIYYAH, itu tampak dari bertemunya raga, yang akan menjadikan berkumpulnya hati, dan tentunya akan terlihat pengaruh pertalian persaudaraan itu dalam tingkah laku dan kehidupan sehari-hari.

38. MENGAJARI MANUSIA UNTUK MEWUJUDKAN LAHAN YANG RIIL UNTUK MENDIDIK JIWA, misalnya:

* Ibadah Haji adalah tempat untuk mendidik jiwa untuk menjaga pandangan mata dari sesuatu yang diharamkan. * Haji adalah tempat untuk mendidik jiwa untuk itsar (mendahulukan orang lain) dalam urusan duniawi) * Haji adalah tempat mendidik jiwa untuk memberi bantuan dan sedekah. * Haji adalah tempat mendidik jiwa untuk menerapkan amar ma'ruf nahi mungkar.

Sungguh haji merupakan pusat praktek nyata dan tempat pelatihan untuk menguji kepribadian seseorang.

39. MENDIDIK MANUSIA UNTUK MEMBUKTIKAN TAQWANYA, karena tempat ketakwaan adalah hati, dan sebagian besar amalan haji itu bertumpu pada hati dengan derajat paling tinggi, oleh karena itulah Allah menyebutkan redaksi takwa dalam ayat-ayat haji, Allah berfirman: "Sempurnakanlah haji dan umroh itu untuk Allah" di akhir ayat disebutkan: "dan bertakwalah kalian pada Allah!" Dia juga berfirman: "Siapkanlah bekal (untuk haji), sungguh sebaik-baik bekal adalah taqwa".

40. MENDIDIK MANUSIA AGAR BERAKHLAK MULIA, yang merupakan sesuatu yang paling berat dalam timbangan amal di hari kiamat nanti, hal ini tampak dari firman-Nya: "Janganlah berdebat (kusir) dalam haji!". Maka anjuran untuk meninggalkan debat merupakan pendidikan untuk berakhlak mulia. Hal itu juga tampak pada anjuran Nabi SAW kepada para sahabatnya untuk tetap tenang ketika meninggalkan Arofah.






Share:

Hikmah Pelajaran Ibadah Haji (Bagian 2)


11. MENGAJARKAN PADA MANUSIA, AGAR MENYIAPKAN DIRI SEBELUM MELAKUKAN KETAATAN, oleh karena itu disunnahkan bagi yang ingin memulai ihrom, agar mandi, membersihkan diri, memotong kuku, membersihkan rambut kemaluan dan ketiaknya, dan memarfumi badannya, sebagaimana dituntunkan oleh Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. Begitu pula ketika sudah tahallul awal dan akan melakukan thowaf ifadloh, disunnahkan baginya memakai parfum, sebagaimana dicontohkan oleh beliau. Tak diragukan lagi, tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap jiwa ketika menjalani ibadahnya, sekaligus menambah kekhusyu'annya.

12. MENGAJARKAN PADA MANUSIA UNTUK IKHLAS DAN TULUS HATI, yang keduanya adalah puncak amalan hati, dengan keduanya sebuah amal akan diterima dan mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya.

13. MENGAJARKAN PADA MANUSIA UNTUK TAWAKKAL DAN MENYERAHKAN URUSANNYA HANYA PADA ALLOH SEMATA, terutama dalam menunaikan dan memudahkan ibadahnya. Lihatlah bagaimana seorang muslim yang datang dengan meninggalkan keluarga, anak, dan hartanya, tentunya ia akan menyerahkan urusan harta dan sanak keluarganya pada Tuhannya, ia juga tentunya banyak meminta permohonan pada-Nya dalam menjalani beratnya perjalanan, terutama mereka yang datang dari negeri jauh.

14. MENGAJARKAN MANUSIA UNTUK BERTAWAKKAL YANG BENAR, tentunya tawakkal yang tidak mengesampingkan usaha lahiriyah yang diperintahkan untuk mencari rizki, oleh karenanya Alloh berfirman: "Tidak ada masalah jika kalian ingin mengharapkan kemurahan (rizki) dari Tuhan kalian". Ayat ini turun pada mereka yang menyangka bahwa makna tawakkal adalah dengan meninggalkan berdagang dalam menjalankan ibadah haji.

15. MENGAJARKAN PADA MANUSIA UNTUK MEWUJUDKAN SEMUA AMALAN-AMALAN HATI. Sungguh tiada ibadah yang tampak padanya semua atau sebagian besar amalan hati seperti dalam meenjalankan ibadah haji ini. Banyak sifat yang terkumpul dalam ibadah haji ini seperti amalan ikhlas, ketulusan hati, roja', tawakkal, zuhud, waro', muhasabah, keyakinan dll"

16. MENDIDIK MANUSIA UNTUK MENUNDUKKAN HATI DARI APA YANG DIINGININYA, selama hal itu dilarang oleh syariat. Parfum, tutup kepala, dan semua larangan ihrom haruslah ditinggalkan pada saat melaksanakan ibadaholeh jama'ah haji padahal hatinya menginginkannya. Ia meninggalkannya bukan karena apa-apa, tapi karena syariat melarangnya.

17. MENGAJARKAN MANUSIA UNTUK TAAT DENGAN ATURAN DAN BATASAN SYARIAT. Hal ini nampak dalam aturan miqot dan batasannya, aturan waktu melempar, aturan waktu meninggalkan arofah, dll.

18. MENGAJARKAN PADA MANUSIA UNTUK MEMBUKA PINTU QIYAS YANG SHOHIH. Pelajaran berharga ini, bisa kita ambil dari ucapan Umar r.a. pada penduduk negeri Irak ketika mereka mengatakan: "Sungguh dua miqot itu, tidak pas dengan jalan kami", maka Umar r.a. mengatakan: "Ambillah tempat yang sejajar dengannya di jalan kalian" (muttafaqun alaih).

Dengan ini, seorang muslim tahu bahwa aturan syariat bukanlah aturan yang kaku, dan tak bisa dirubah sama sekali. Tapi terbuka juga dalam aturan syariat ini pintu qiyas, tentunya hal ini hanya dikhususkan bagi mereka yang memiliki syarat dan ketentuan dalam ber-ijtihad.

19. MENGAJARKAN PADA MANUSIA TENTANG RUKUN KEDUA DITERIMANYA SUATU AMALAN, yakni mengikuti tuntunan Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. Oleh karena itu, beliau menyabdakan: "Ambillah cara manasik kalian dariku!" (muttafaqun alaih). Beliau juga mengatakan dalam kesempatan lain: "Melemparlah dengan kerikil yang seperti ini!". Begitu juga perkataan Umar r.a. pada hajar aswad: "Aku tahu, kau ini hanyalah sebuah batu, yang takkan mampu memberi manfaat atau mendatangkan bahaya, andai saja aku tidak melihat Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- menciummu, tentunya aku takkan menciummu" (muttafaqun alaih).

Dengan itu semua, seorang muslim akan lulus dari madrasah hajinya, dalam keadaan telah terbiasa mengikuti tuntunan Nabinya -shollallohu alaihi wasallam-, baik dalam hal yang besar, maupun yang paling kecil sekalipun.

20. MEMBERIKAN PELAJARAN AKAN MUDAHNYA AJARAN SYARIAT, sehingga keyakinan ini bisa tertanam dalam hatinya dan terasa ringan ketika menerapkannya. Hal ini, bisa terlihat dalam amalan-amalan berikut ini :

* Letak miqot yang menyebar dan terpisah-pisah, hingga memudahkan para jama'ah haji dalam memulai ihromnya. * Cara manasik ibadah haji yang bermacam-macam. * Adanya hukum khusus bagi para jama'ah yang lemah dan lanjut usia.

21. MENDIDIK MANUSIA, AGAR MEMPERHATIKAN ADANYA PERBEDAAN DIANTARA MEREKA. Sungguh tidaklah mereka berada pada derajat yang sama. Hal ini tampak pada adanya cara manasik haji yang bermacam-macam. Diantara mereka ada yang tidak mampu menunaikan hajinya, kecuali dengan cara ifrod. Diantara mereka ada yang hanya mampu melakukannya dengan qiron dan hal itu menjadi lebih mudah dan lebih utama baginya. Dan diantara mereka ada yang bisa menunaikan manasik dengan cara yang paling utama, yakni tamattu'.

Sungguh ini menunjukkan tingginya perhatian syariat pada keadaan, kemampuan, masalah, dan perbedaan mereka. Sekaligus merupakan bantahan bagi orang yang menuntut bersatunya umat dalam segala hal, baik dalam amalan maupun dalam hal kepentingannya.

22. MENGAJARI MANUSIA BAGAIMANA FIKHUL KHILAF DALAM KEHIDUPAN NYATA, hal itu tampak pada hal-hal berikut ini :

* Perbedaan para jama'ah dalam dalam memilih cara manasiknya. * Perbedaan para jama'ah dalam menjalani amalan yang dilakukan pada hari ke-10 bulan Dzulhijjah. * Perbedaan para jama'ah dalam hal dzikir yang dibaca ketika meninggalkan Mina menuju Arofah. Sebagaimana disebutkan, para sahabat dulu ada yang bertalbiyah, ada juga yang bertakbir. * Perbedaan waktu bolehnya beranjak dari Muzdalifah ke Mina, melihat keadaan masing-masing, bagi yang lemah ada waktu tersendiri, dan bagi yang kuat ada waktu tersendiri. * Perbedaan para jama'ah dalam memilih nafar awal atau nafar tsani untuk ibadah hajinya. * Perbedaan para jama'ah dalam memilih menggundul atau memendekkan rambutnya ketika hendak bertahallul.

Semua contoh di atas, mengajari para jama'ah bagaimana menyikapi perbedaan dan individunya. Sungguh, tidak ada nukilan tentang timbulnya cekcok atau tuduhan antara satu sahabat dengan sahabat lainnya, karena sebab memilih cara manasik tertentu, meski pilihan mereka adalah cara manasik yang kurang utama.

23. MENGAJARI MANUSIA, BAHWA TIDAK SEMUA YANG DITERANGKAN OLEH SYARI'AT ITU MUNGKIN DICERNA OLEH AKAL, tujuannya adalah agar syariat tetap menjadi pemegang kendali hukum di atas akal, bukan di bawahnya.

Dengan ini, seorang muslim akan terdidik untuk selalu menghubungkan dirinya dengan Allah dan ilmu-Nya, sekaligus melatihnya untuk berjiwa besar dan mau mengakui kelemahan dan kekurangannya.

24. MENGAJARI MANUSIA, BAHWA YANG PALING AFDLOL, ADALAH YANG SESUAI DG SYARIAT, bukan yang lebih berat dan susah, misalnya: Memulai ihram dari miqot, lebih utama dari pada memulainya dari tempat sebelumnya, meski itu lebih berat dan susah. Sehingga dengan ini, seorang muslim terdidik untuk memuliakan syariat dan memperhatikannya.

25. MELATIH MANUSIA, UNTUK TERBIASA TERTIB DAN TAAT ATURAN. Budaya tersebut bukanlah keistimewaan negeri kafir, sebaliknya itu merupakah nilai Islam yang telah kita abaikan. Nilai ini tampak dari hal-hal berikut:

* Harusnya tertib dalam menjalani amalan-amalan Umrah. * Sunnahnya tertib dalam menjalankan amalan-amalan pada hari ke-10 bulan dzulhijjah. * Harusnya tertib ketika melempar jamarot. * Tapi yang sungguh mengherankan, di zaman kita ini, justru ketertiban itu malah dijadikan cemoohan!

Share:

Postingan Populer

Label

Arsip Blog

Umroh Promo by Emirate

Umroh 9 hari dari Ternate by GARUDA

Umroh 12 Hari by GARUDA

WhatsApp Kami