Hikmah Pelajaran Ibadah Haji (Bagian 3)


26. MENDIDIK MANUSIA UNTUK MENEKAN SYAHWATNYA SECARA KHUSUS, oleh karena itu akad nikah menjadi larangan saat dalam keadaan ihram, bahkan sampai rofats dan jima' pun dilarang. Tidak diragukan, ini mendidik seorang muslim agar waspada dan hati-hati dengan syahwat ini.

27. MENDIDIK MANUSIA UNTUK MENUNAIKAN IBADAHNYA SESEMPURNA DAN SEBAIK MUNGKIN, oleh karena itu Allah berfirman: "Barangsiapa yang berkewajiban haji, maka janganlah ia melakukan rofats (hubungan suami istri), kefasikan, dan debat (kusir) dalam ibadah hajinya", beliau -shollallohu alaihi wasallam- juga bersabda: "Haji yang mabrur itu, tiada balasan lain baginya kecuali surga" (Muttafaqun Alaih). Ini semua mendidik muslim untuk menjaga kualitas ibadahnya.

28. MENDIDIK MANUSIA UNTUK MENYESUAIKAN DIRINYA SAAT KEADAAN DAN KEBIASAAN LINGKUNGANNYA BERUBAH. Tentunya sepanjang tahun jama'ah haji terbiasa melakukan sesuatu di negaranya, lalu ketika melakukan ibadah haji, ia harus memaksa dirinya untuk menyesuaikan dengan waktu dan jam yang sedang ia jalani. Inilah maksud dari arahan Umar r.a. saat mengatakan: "Prihatinlah, karena nikmat-nikmat yang ada itu tidak akan langgeng selamanya".

29. MENDIDIK MANUSIA UNTUK BANYAK BERDOA. Dalam manasik ibadah haji, disunnahkan bagi muslim untuk berdoa pada Tuhannya, di kebanyakan tempat yang dikunjunginya, misalnya:

* Saat thowaf. * Saat sholat sunat 2 rokaat setelah thowaf. * Saat minum air zamzam. * Saat naik ke bukit Shofa dan Marwa. * Saat di tengah-tengah pelaksanaan sa'i. * Saat Hari Arofah * Setelah terbit fajarnya hari nahr (tanggal 10 dzulhijjah) hingga langit menguning. * Setelah melempar dua jamarot, Shughro dan Wustho.

Dan tempat-tempat lainnya, itu semua mendidik seorang muslim untuk selalu mendekatkan diri pada Tuhannya dalam doa dan selalu kembali pada-Nya.

30. MENDIDIK MUSLIM UNTUK TA'ABBUD DENGAN SIFAT MAHA MENDENGAR DAN MAHA MELIHATNYA ALLOH TA'ALA, sebagaimana madzhabnya Ahlus sunnah wal jama'ah dalam menetapkan sifat dan maknanya, ini tampak dalam hal-hal berikut ini:

* Banyaknya bahasa yang beraneka ragam, suara yang berbeda-beda, kebutuhan yang bermacam-macam, pun begitu, Dia yang maha suci tetap mampu mendengarkan doanya ini, dan mengabulkan doanya itu, serta mengetahui seluruh bahasa mereka. * Dia maha tahu niat para jama'ah dalam melaksanakan ibadah haji yang berbeda-beda, dan seberapa tulus dan ikhlasnya mereka, meski jumlah mereka sangat banyak.

31. MELATIH MANUSIA, UNTUK TIDAK MENGANGGAP REMEH APAPUN YANG DIHARAMKAN ALLOH, oleh karena itulah dalam ibadah haji ini, ada beberapa kalimat yang diulang-ulang, diantaranya :

* Tanah haram. * Bulan haram. * Larangan-larangan ketika sedang ihram.

Dengan begitu seorang muslim terlatih untuk mengagungkan apa yang diharamkan oleh Allah SWT dari sekian banyak sesuatu yang diharamkannya.

32. MELATIH MANUSIA UNTUK MENEGUHKAN PRINSIP "LOYAL PADA KAUM MUSLIMIN DAN BERLEPAS DIRI DARI KAUM KAFIRIN". Oleh karena itulah disunnahkan dalam sholat sunat setelah thowaf untuk membaca surat alkafirun, yang didalamnya menekankan dan menuangkan dasar prinsip ini.

Termasuk diantara bukti paling nampak dari petunjuk menyelisihi kaum musyrikin adalah, beranjaknya para jama'ah haji (dari Muzdalifah) sebelum terbitnya matahari.

33. MENDIDIK MANUSIA UNTUK TENANG, TERTIB, DAN MEMPRAKTEKKAN PRINSIP ITSAR (mendahulukan orang lain dalam hal duniawi). Oleh karena itulah dahulu Rosul -shollallohu alaihi wasallam- ketika meninggalkan Arafah menyabdakan: "tenang dan tenanglah", karena saat itu merupakan momen yang biasanya rame dan memungkinkan terjadinya saling menyakiti antara kaum muslimin.

Sifat waqor dan tenang adalah sifat yang selayaknya melekat pada diri seorang muslim, sebagaimana Allah memberikan sifat itu pada mereka dalam kitab-Nya: "yaitu mereka yang berjalan di atas bumi dengan sopan"

34. MENDIDIK MANUSIA UNTUK MENYATUKAN KATA, MESKI KEADAAN DAN CARA MANASIK MEREKA BERBEDA-BEDA. Ini merupakan dasar yang agung, dan ditunjukkan dalam banyak nash syariat dan juga tampak dari keadaan para sahabat -rodliallohu anhum-.

35. MELATIH MANUSIA UNTUK MENGINGAT HARI KIAMAT, yakni dengan banyaknya orang yang berkumpul saat itu, bahkan pada hari kiamat nanti, Allah akan mengumpulkan manusia dari awal hingga akhir penciptaan. Tak diragukan lagi, dengan mengingat hari kiamat, hati seorang muslim akan hidup dan memiliki pengaruh besar dalam kekhusyu'an dan ibadahnya.

36. MENDIDIK MANUSIA UNTUK MEMPERHATIKAN DAN MENGHARGAI WAKTU. Hari arofah adalah kesempatan yang tak ada gantinya bila telah hilang, hari-hari tasyriq adalah hari-hari yang diperuntukkan untuk berdzikir (mengingat Allah), dan di 10 hari pertama bulan dzul hijjah amalan ibadah dilipat-gandakan pahalanya, itu semua melatih seorang muslim untuk memanfaatkan waktunya untuk apapun yang bermanfaat baginya.

37. MENDIDIK MANUSIA UNTUK MENJAGA UKHUWWAH IMANIYYAH, itu tampak dari bertemunya raga, yang akan menjadikan berkumpulnya hati, dan tentunya akan terlihat pengaruh pertalian persaudaraan itu dalam tingkah laku dan kehidupan sehari-hari.

38. MENGAJARI MANUSIA UNTUK MEWUJUDKAN LAHAN YANG RIIL UNTUK MENDIDIK JIWA, misalnya:

* Ibadah Haji adalah tempat untuk mendidik jiwa untuk menjaga pandangan mata dari sesuatu yang diharamkan. * Haji adalah tempat untuk mendidik jiwa untuk itsar (mendahulukan orang lain) dalam urusan duniawi) * Haji adalah tempat mendidik jiwa untuk memberi bantuan dan sedekah. * Haji adalah tempat mendidik jiwa untuk menerapkan amar ma'ruf nahi mungkar.

Sungguh haji merupakan pusat praktek nyata dan tempat pelatihan untuk menguji kepribadian seseorang.

39. MENDIDIK MANUSIA UNTUK MEMBUKTIKAN TAQWANYA, karena tempat ketakwaan adalah hati, dan sebagian besar amalan haji itu bertumpu pada hati dengan derajat paling tinggi, oleh karena itulah Allah menyebutkan redaksi takwa dalam ayat-ayat haji, Allah berfirman: "Sempurnakanlah haji dan umroh itu untuk Allah" di akhir ayat disebutkan: "dan bertakwalah kalian pada Allah!" Dia juga berfirman: "Siapkanlah bekal (untuk haji), sungguh sebaik-baik bekal adalah taqwa".

40. MENDIDIK MANUSIA AGAR BERAKHLAK MULIA, yang merupakan sesuatu yang paling berat dalam timbangan amal di hari kiamat nanti, hal ini tampak dari firman-Nya: "Janganlah berdebat (kusir) dalam haji!". Maka anjuran untuk meninggalkan debat merupakan pendidikan untuk berakhlak mulia. Hal itu juga tampak pada anjuran Nabi SAW kepada para sahabatnya untuk tetap tenang ketika meninggalkan Arofah.






Previous
Next Post »
0 Komentar