Hikmah Pelajaran Ibadah Haji (Bagian 1)



1. PENDIDIKAN UNTUK MENTAUHIDKAN ALLAH SWT, baik dalam ucapan maupun amalan, hal ini terlihat jelas dalam beberapa amalan berikut ini:

* Bacaan talbiyah, yang disebut juga dengan kalimat tauhid: Labbaikallohumma labbaik * Dimasukkannya dalam talbiyah kata: la syarika lak (tiada sekutu bagi-Mu). * Kata la syarika lak yang diulangi dua kali dalam bacaan talbiyah, ini menunjukkan adanya penekanan dalam hal tauhid. * Kata-kata: "Innal hamda wan ni'mata laka wal mulk", maksudnya adalah: "Sesungguhnya semua pujian, segala nikmat, dan seluruh kekuasaan hanya bagi-Mu ya Allah", dan ini juga mengandung nilai tauhid. * Larangan thowaf di selain Ka'bah, itu artinya kita dilarang untuk thowaf di arofah, di jamarot, di pemakaman, tempat keramat, tempat bersejarah, dll. Ini semua bukti keyakinan kita, bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan itulah diantara bentuk nyata mentauhidkan Allah SWT.

2. PENDIDIKAN UNTUK BANYAK MEMUJI ALLAH SWT.
    Hal ini tampak pada kata hamdalah yang ada dalam talbiyah. Meskipun pada saat melaksanakan ibadah haji sedang dalam keadaan tertimpa musibah, didera cobaan, sakit, miskin, dan terasingkan mereka semua tetap memuji Allah, seakan-akan mereka dalam keadaan lapang, sehat, dan kuat Sungguh tak diragukan lagi, memuji Allah dianjurkan bagi setiap muslim, baik di saat suka, maupun duka.

3. PENDIDIKAN UNTUK SELALU MEMBASAHI LISAN DENGAN DZIKIR, ini tampak pada:

* Disunnahkannya membaca talbiyah hingga sampai di masjidil harom, atau sampai melihat ka'bah, atau sampai memulai thowaf. Meski para ulama berbeda pendapat tentang kapan harus mengakhiri talbiyah, tapi semua pendapat itu mengisyaratkan anjuran untuk memperbanyak talbiyah. * Saat thowaf, kita dianjurkan untuk memperbanyak doa, atau dzikir, atau pujian pada Alloh, dan semuanya merupakan bentuk dzikir. * Dalam sai juga demikian. * Doa di Hari Arofah yang berupa dzikir: "la ilaaha illallohu wahdahu. * Hari-hari di mina adalah hari untuk makan, minum, dan berdzikir. * Disyariatkannya melempar jumroh adalah untuk berdzikir mengingat-Nya. * Disunnahkan untuk membaca takbir dalam setiap lemparan kerikilnya.

Dan masih banyak lagi tempat dan kesempatan lain untuk memperbanyak dzikir dalam ibadah haji ini. Itu semua mengajarkan pada seorang muslim agar lisannya selalu basah dengan bacaan dzikir.

4. MENGAJARKAN KITA UNTUK MENGINGAT MATI, yaitu dari pengenaan kain kafan dalam pelaksanaannya. Dengan ini, seorang mukmin akan teringat dan merasakan bagaimana akhir hidupnya, sehingga hal itu akan mempengaruhi hati dan amalannya.

5. MENGAJARKAN MANUSIA UNTUK ZUHUD PADA DUNIA DAN KENIKMATANNYA. Baik dia seorang yang kaya, presiden, atau menteri, ia tidak akan mengenakan kecuali baju putih itu. Seandainya ia ingin mengenakan baju lain yang dimilikinya, tetap saja tidak diperbolehkan baginya.

6. MENDIDIK MANUSIA UNTUK QONA'AH, sekaligus memberi pelajaran bahwa kekayaan yang hakiki adalah pada sifat qonaah itu. Oleh karena itu, para jama'ah yang sedang melaksanakan ibadah haji dilatih untuk cukup hanya dengan mengenakan pakaian yang menutupi auratnya, cukup dengan tidur sekedar bisa menghilangkan lelah dan malas, dan cukup dengan makan sekedar bisa menopang tubuhnya.

7. MENGAJARKAN PADA MANUSIA, bahwa kekayaan duniawi tidaklah memiliki kedudukan di sisi Allah bila dilihat dari dzatnya. Oleh karena itu pelaksanaan ibadah haji sama-sama dalam pakaian dan amalannya. Adapun kekayaan, kefakiran, kedudukan, dan tempat tinggal mereka, sungguh hal itu tidak punya pengaruh apa-apa. Yang mempengaruhi mereka hanyalah keikhlasan dan mengikuti sunnah dalam beramal. Sungguh demi Allah, betapa banyak para masakin di tempat itu yang lebih mulia, dari mereka yang kaya dan memiliki kedudukan yang tinggi!!.

8. MENGAJARKAN PADA MANUSIA dasar Persatuan Islam, hal ini tampak dari seragamnya perbuatan, amalan, tempat, dan waktu mereka.

9. MENGAJARKAN PADA MANUSIA untuk sabar dalam menghadapi kemaksiatan, hal itu tampak pada hal-hal berikut ini:

* Sabar untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang ketika dalam keadaan ihram. * Sabar untuk tidak melakukan kefasikan, sebagaimana firman-Nya: "Barangsiapa berkewajiban menunaikan ibadah haji dalam bulan-bulan haji, maka janganlah ia berbuat fasik dan keji". Sehingga ketika ia pulang ke negerinya, ia telah terdidik dan terbiasa sabar dari segala kemaksiatan, sebagaimana ia sabar menghadapinya pada hari-hari itu.

10. MENGAJARKAN PADA MUSLIM untuk sabar dalam ketaatan. Dan barangsiapa mau merenungi masalah-masalah tentang haji, tentu ia akan menemukan makna ini. Hal itu terlihat diantaranya:

* Setelah melaksanakan ibadah haji,  jama'ah ingin bersegera kembali ke negerinya, ia tidak diperkenankan sebelum tanggal 12 dzulhijjah. * Pulangnya juga harus setelah melempar dan thowaf wada', meski ia berasal dari negeri yang jauh, tetap saja ia harus menjalani semua amalan ketaatan ini, baru setelah itu diperkenankan untuk pulang.

Previous
Next Post »
0 Komentar