Maqam Ibrahim



Maqam Ibrahim

Usai melakukan thawaf—mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran—jamaah haji disunahkan untuk shalat sunah di depan Maqam Ibrahim. Tempat ini bukanlah kuburan Nabi Ibrahim atau tempat lahir pembangun Ka’bah. Sebenarnya, apakah itu Maqam Ibrahim? 

Sejarah mengisahkan Ibrahim dan putranya, Ismail, diperintahkan Allah untuk menyeru manusia agar menyembah atau beribadah kepada Allah. Namun, saat itu tak ada tempat yang bisa digunakan untuk keperluan beribadah kepada Allah.

Karena itulah Ibrahim berharap ada tempat yang bisa digunakan untuk lokasi berkumpulnya manusia, yaitu tempat berkumpul semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Keinginan Ibrahim ini dipenuhi oleh Allah. 

Dan, Allah memerintahkannya untuk membangun Baitullah, Ka’bah. Setelah menerima mandat ini, Ibrahim berkata kepada putranya, “Ismail, Allah telah memerintahkan aku, maukah engkau membantuku?”

“Ya, saya mau,” jawab Ismail.

“Allah telah menyuruhku untuk membangun sebuah rumah di sini,” ujarnya seraya menunjuk ke sebuah bukit kecil yang lebih tinggi dari tanah sekitarnya. Mereka kemudian menuju ke tempat itu dan mulai membangun pondasi Ka’bah. 

Ismail yang mengumpulkan dan membawa batu-batu dan ayahnya, Ibrahim, menyusunnya menjadi bangunan/dinding. Setelah dinding bangunan itu menjadi tinggi, Ismail membawakan sebuah batu besar dan meletakkannya di depan ayahnya untuk tempat berpijak. 

Dengan batu pijakan ini Ibrahim dapat melanjutkan membangun Kabah. Batu tempat pijakan Nabi Ibrahim ini dapat naik turun sesuai dengan keinginan Ibrahim.

Ketika bangunan itu selesai, keduanya lalu mengitari Ka’bah dan berkata, “Wahai Tuhan kami, terimalah amalan kami ini.” Malaikat Jibril lalu turun dari surga dan menunjukkan cara-cara beribadah haji (ritual-ritual haji) kepada Ibrahim. 

Kemudian, Ibrahim menginjak batu itu—yang bisa naik melebihi ketinggian bukit-bukit yang ada di sekitarnya—dan berseru kepada manusia, “Wahai manusia, taatilah Tuhanmu.”

Batu besar bekas pijakan Nabi Ibrahim inilah yang disebut sebagai Maqam Ibrahim. Kini, batu itu masih ada dan terletak di dekat Ka’bah—sekitar 10 meter dari Ka’bah sebelum Hijir Ismail kalau kita memulai thawaf. 

Batu bekas telapak kaki Nabi Ibrahim ini kini tersimpan rapi dalam sebuah bangunan cungkup warna kuning dengan terali besi dan berkaca tebal agar tak terjamah oleh tangan-tangan manusia.


Previous
Next Post »
0 Komentar